Muhamad Sirajudin
2812133038
PBA 6B
PROGRES REPORT
KELOMPOK 1
Metode penemuan kebenaran
Metode penemuan kebenaran dilihat dari pengertiannya dapat
diperinci dari kata metode dan kebenaran. Metode merupakan cara utama yang
dipergunakan untuk mencapai tujuan, sebagai contoh untuk menguji serangkaian
hipotesis dengan mempergunakan teknik serta alat-alat tertentu. Sedangkan arti
kebenaran diantaranya yaitu keadaan sesuatu yang benar, dengan sungguh-sungguh
ada. Kebenaran merupakan tema sentral didalam filsafat ilmu.
Kebenaran
adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Menusia selalu ingin tahu kebenaran,
karena hanya kebenaranlah yang bisa memuaskan rasa ingin tahu manusia, dengan
kata lain tujuan pengetahuan adalah mengathui kebenaran. Tujuan ilmu mencapai
kebenaran, dalam ilmu manusia ingin memperoleh penegtahuan yang benar, karena
ilmu merupakan pengetahuan yang sistematis, maka pengetahuan yang dituju ilmu
adalah pengethuan ilmiah. Kebenaran ialah persesuaian antara pengetahuan dan
objeknya. Pengetahuan yang benar adalah pengatahuan yang yang sesuai dengan
objeknya.
Uaraian
diatas dapat disimpulkan bahwa metode penemuan kebenaran adalah sekumpulan
cara/ prosedur yang digunakan untuk menemukan persesuaian antara pengetahuan
yang objeknya berdasarkan bukti ilmiah yang kuat.
Dalam
metode penemuan kebenaran terdapat teori sebagai penentunya.
1. Teori
koherensi (kebenaran saling berhubungan) suatu proposisi (pernyataan) dianggap
benar apabila pernyataan tersebut bersifat koheren atau konsisten atau saling
berhubungan dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya dianggap benar. Teori
koherensi dipergunakan pada proses penalaran teoritis yang didasarkan pada
logika deduktif.
2. Teori
korespondensi (saling bersesuaian) merupakan teori digunakan untuk proses
pembuktian secara empiris dalam pengumpulan data-data yang mendukung suatu pernyataan
yang telah dibuat sebalumnya.
3. Teori
pragmatisme (teori kensekuensi kegunaan) teori ini beranggapan bahwa kebenaran
suatu pernyatan diukur dengan kriteria. Suatu pernyataan dikatakan benar jika
konsekuensi dari pernyataan tersebut memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan
manusia. Pragmatisme merupakan teori dalam penentuan kriteria kebenaran.
Metode penemuan kebenaran :1) penemuan dengan
menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah, dari suatu ilmu pengetahuan adalah
segala jalan atau cara dalam rangka ilmu tersebut untuk sampai kepada kesatuan
pengetahuan. Penemuan kebenaran dengan cara ilmiah adalah berupa kegiatan
peneliti ilmiah dan dibangun atas teori-teori tertentu. Penelitian ilmiah,
yaitu penelitian yang dilakukan secara sistematis dan terkontrol berdasarkan
data-data empiris yang ditemukan dilapangan. 2) penemuan kebenaran
dengan metode non-ilmiah ialah; (a) penemuan kebenaran secara kebetulan
merupakan peristiwa yang tidak disengaja kadang-kadang ternyata menghasilkan
suatu kebenaran yang menambah perbendaharaan pengetahuan manusia, karena
sebelumnya kebenaran itu tidaklah diketahui, (b) penemuan kebenaran
dengan trial and error. Mencoba sesuatu secara berulang-ulang, walaupun selalu
menemukan kegagalan dan akhirnya menemukan suatu kebenaran disebut cara kerja
trial and error, (c) penemuan kebenaran melalui otoritas atau
kewibawaan. Ototritas ilmiah adalah orang-orang yang biasanya telah menempuh
pendidikan formal tertinggal atau yang mempunyai pengalaman kerja ilmiah dalam
sesuatu bidang yang cukup banyak, (d) penemuan kebenaran secara
spekulatif. Dalam kata lain memilih salah satu dari beberapa kemungkinan
pemecahan masalah itu, walaupun tanpa meyakini bahwa pilihannya itu sebagai
cara yang setepat-tepatnya, (e) penemuan kebenaran dengan akal sehat.
Dua hal yang berbeda sekalipun dalam batas tertentu keduanya mengandung
persamaan. Dan walaupun akal sehat yang berupa konsep dan bagan konsep itu
dapat menunjukan hal yang benar, namun dapat menyesatkan. Penemuan ilmiah
ternyata membantah kebenaran akal sehat tersebut. (f) dengan akal sehat
orang cenderung kearah pembuatan generalisasi yang terlalu luas, kemudian
merupakan prassangka. (g) penemuan kebenaran melalui pendekatan
intuitif. Dalam pendekatan ini orang menentukan “pendapat” mengenai suatu
berdasrkan atas “pengethuan” yang langsung atau didapat dengan cepat melalui
proses yang tidak didasari ata tidak difikirkan lebih dahulu. Dengan instuisi,
orang memberikan penilaian tanpa didahului suatu renungan.
KELOMPOK II
Metode dan Metodologi
Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan
pelaksanaan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Metode dirumuskan
sebagai suatu proses atau prosedur sistematik berdasarkan prinsip dan teknik
ilmiah yang dipakai oleh suatu disiplin ilmu unyuk mencapai suatu tujuan
tertentu.
Metodologi diartikan sebagai ilmu yang membicarakan tentang
metode-metode. Pengkajian mengenai model
atu bentuk umum prosedur praktis penelitian menurut metodologi itu, agar dapat
tercapai tujuan yaitu kebenaran ilmiah. Metodologi dalam linguistik harus
dipertimbangkan dari 2 segi, yaitu peneliti itu sendiri yang mencakup
pengumpulan data teknik beserta cara, dak teknik, prosedur yang ditempuh dan
segi lain adalah metode kajian (analisis) yang melibatkan pendekatan (teori) sebagai
alat analisis data penelitian.
Metodologi
penelitian bahasa mangkaji hakikat bagaimana seseorang mencari kebenaran
tentang sebuah bahasa. Hakikat metodologi diterapkan dalam penelitian bahasa
serta pengejawantahannya dalam berbagai model metodologi penelitian bahasa.
Keterkaitan antara Metode, Metodologi, Epistimologi ketika berbicara mengenai upaya
yang dilikukan untuk menggali suatu fakta yang terjadi. Oleh hal tersebut
epistimologi adalah suatu cabang filsafat yang mengkaji tentang usaha dan upaya
untuk mancari tahu suatu kebenaran secara hakiki. Dalam kajian tentang
epistimologi sering dijumpai kata metodologi yang merpakan pengakajian yang
mendalam tentang prosedur-prosedur yang
ada pada metode tersebut.
Unsur-unsur metodologi ; a) interpretasi ;menafsirkan atau
membuat tafsiran, tetapi tidak bersifat subjektif malainkan bersifat objektif
untuk dapat memperoleh pengertian dan pemehaman, b) deduksi dan induksi; setiap
ilmu pengetahuan terdapat metode drduksi dan induksi, hal ini menurut
pengertian siklus empiris, c) koherensi intern; usaha memahami secara benar
guna memperoleh hakikat dengan menunjukkan semua unsur struktural yang
konsisten, d) holistis; tinjauan secara lebih dalam untuk mencapai suatu kebenaran secara utuh,
e) kesinambungan historis; dalam perkemabangan pribadi harus dapat difahami
melalui suatu proses kesinambungan , karena rangkaian kehidupan manusia
merupakan mata rantai yang tidak terputus, f) idealis; upaya penelitian untuk
memperoleh hasil yang ideal atau sempurna, g) komperasi; merupakan usaha untuk
memperbandingkan sifat hakikat dalam objek penelitian sehingga dapat menjadi
lebih jelas dan lebih tajam, h) analogical; adalah filsafat meneliti arti,
nilai, dan maksud yang diekspresikan dalam fakta dan data, i) deskripsi; seluruh
hasil penelitian harus dideskripsikan. Data yang dieksplisitkan memungkinkan
dapat dipahami secara keseluruhan.
Model metodologi penelitian bahasa ;1) metodologi aliran rasional
tradisional analisis yang menguji kalimat sebagai suatu komponen logika. 2)
metodologi linguistik struktural; penelitian dengan mengajukan prosedur
penemuan dengan melacak data dari penutur asli atau alamiah.3) model penelitian
transformatif generatif merupakan model yang penganutnya mengemukakan tujuan
linguistik adalah menemukan kaidah bahasa. Secara metodologis, tujuan ini dapat
diamati pada dua tataran, kepadaan deskriptif dan kepadaan eksplanatif.
KELOMPOK III
Metode penelitian
Metode penelitian merupakan alat, prosedur, dan teknik
yang dipilih dalam melaksanakan penelitian (dalam mengumpulakan data). Metode penelitian
bahasa berhubungan erat dengan tujuan penelitian bahasa. Maka dalam hal ini
metode penelitian merupakan cara pemecahan masalah penelitian yang dilaksanakan
secara terencana dan cermat dengan meksud mendapatkan fakta dan simpulan agar
memahami, menjelaskan, meramalkan, mengendalikan keadaan.
Jenis-jenis penelitian : 1) penelitian berdasarkan tujuan
(penelitian dasar, penelitian terapan), 2) penelitian berdasarkan jenis data
(kualitatif, kuantitaif), 3) penelitian berdasarkan aspek metode (penelitian
eksperimen, penelitian eksperimen kuasi, penelitian subjek tunggal, penelitian
deskriptif, penelitian komperatif, penelitian korelasional, penelitian survei,
penelitian ex post facto, penelitian etnhografik, penelitian fenomenologi,
studi kasus, grounded thoery, studi kritis, penelitian non-interaktif).
Subjek penelitian a) populasi; wilayah generaliasai
terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan, b)
sampel; sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi, c)
sampling; merupakan tektnik didalam pengambilan sampel yang dilakukan dengan
metode “ probability sampling, nonprobability sampling”.
Teknik pengumpulan data : a) kuisioner atau angket;
pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden
dalam arti laporan tentang pribadi atau hal-hal yang di ketahui, b)
dokumentasi; mencari dan mengumpulkan data mengenai hal-hal yang berupa
catatan, transkip, buku, surat kabar, dan lain-lain, c) interview (wawancara);
pengumpulan data dengan dengan menggunakan menjadi responden sebagai sasaran
didalam pengumpulannya, hal ini dilakukan dengan secara terstruktur, d)
observasi; teknik pengumpulan data denga menggukan cara wawancara dan kuisioner
dan sifat pengumpulan datanyah bersifat bebas dan tidak terbatas. Sifat
observasi terdiri atas observasi berperanserta, dan observasi nonpartisipan.
KELOMPOK IV
Penelitian kualitatif
Hakikat penelitian
kualitatif
adalah suatu pendekatan yang juga disebut pendekatan investigasi karena
biasanya peneliti mengumpulkan data dengan cara bertatap muka langsung dan
berinteraksi dengann orang-orang ditempat penelitian. Dengan pendekatan ini peniliti
akan menggambarkan dan menganalisi setiap individu dalam kehidupan dan
penelitiannya. Penelitian kualitatif sebagai jenis penilitian yang
temuan-temuannya tidak diperoleh melaui prosedur statistik atau bentuk hitungan
lainnya. Penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa model, seperti
studi kasus, biografi fenomenologi, analisis teks, etnografi. Penelitian ini
termasuk jenis penelitian dengan paradigma pos-positivism, bertujuan
menafsirkan objek yang teliti, dengan menggunakan berbagai metode dilaksanakan
pada latar alamiah.
Penelitian kualitatif mengansumsi
realita sebagai sesuatu yang dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Peneliti menggunakan metode kualitatif percaya bahwa realita adalah suatu
bentuk sosial. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang penting untuk
memahami suatu fenomena sosial dan persepektif individu yang diteliti. Tujuan
pokonya adalah menggambarkan, mempelajari dan menjelaskan suatu fenomena dalam
proses pendidikan. Tujuan pendekatan kualitatif untuk menganalisis yang
diteliti agar diperoleh informasi mengenai perilaku, perasaan, keyakinan ide,
bentuk pemikiran, serta dapat menghasilkan pemikiran, dan mengahasilkan teori.
Penelitian kualitatif disebut
penelitian “ atau “alamiah” ,”etnografi”, “ ineraksionis simbolik”, persepektif
kedalam”, dan lain-lain. Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam
ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan
manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan masyarakat tersebut
melalui bahasannya sendiri.
Ciri-ciri
penelitian kualitatif , a) latar pelaksanaan penelitian adalah alamiah, sesuai
dengan konteks yang alami, konteks dan realita menyatu. pemahaman yang utuh
tentang menyatu padunya realitas dan konteks didasarkan pada tiga asumsi
ontologi, yaitu (1) tindakan mengamati memngaruhi apa yang diamati,(2) konteks
yang menentukan makna temuan bagi konteks yang lain, (3) struktur nilai kontekstual
merupakan penentu tahap apa yang dicari, b) intrumen penelitian
kualitatif adalah manusia dan peneliti, c) tiga metode yang diterapkan
(pengamatan, wawancara, telaah dokumen), d) metode menganalisis data
dalam penelitian dilakukan dengan dua cara; deduktif dan induktif, e) penelitina
kualitatif teori lajir dari data, bukan melahirkan data, f) bersifat
deskriptif dalam pengolahan datanya, g) mementinkan proses dalam
penelitiannya, h) batas ditentukan oleh fokus dalam peneleitian
kualitatif, i) validitas, reliabilitas, dan objektivitas penelitian
berbeda dengan kuantitatif, j) penelitian bersifat sementara, k) hasil
penelitian berupa pengertian dan interpretasi yang dihasilkan melalui
kesepakatan sumber data atau informan.
KELOMPOK V
Informan Penelitian
A.
Pengertian
Informan penelitian
Informan adalah orang
yang berpengaruh dalam proses perolehan data atau bisa disebut key member
yang memegang kunci sumber data penelitian. Informan adalah orang yang berada
pada lingkup penelitian, artinya orang yang dapat memberikan informasi tentang
situasi dan kondisi latar penelitian. Jadi, informan harus mempunyai banyak
pengalaman tentang latar penelitian. Yang termasuk informan diantaranya adalah
seperti para professional dan para ahli.
B.
Kegunaan
informan penelitian
1. membantu agar cepat dan teliti dalam konteks setempat,
terutama bagi peneliti yang belum mengalami latihan etnografi.
2. Agar dalam waktu yang singkat dapat banyak informasi yang
terkumpul sebagai sampling internal
C.
Persyaratan
sebagi informan penelitian
1. Jujur
2. Taat pada janji
3. Patuh pada peraturan
4. Suka berbicara
5. Tidak termasuk anggota salah satu kelompok yang bertentangan
dalam latar penelitian
6. Mempunyai pandangan tertentu tentang peristiwa yang
terjadi
D.
Kriteria
pemilihan informan
1. Memiliki pengalaman pribadi dengan masalah yang diteliti
2. Dengan usia dewasa
3. Sehat jasmani dan rohani
4. Bersifat netral dan tidak mempunyai kepentingan pribadi
untuk menjelekkan orang lain
5.
Memiliki
pengetahuan yang luas dengan permasalahan yang diteliti
KELOMPOK VI
Metode Ilmiah Linguistik
Pengertian
metode ilmiah linguistik yaitu suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan
pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah tentang bahasa untuk
memperoleh pengetahuan baru atau pengembangan pengetahuan yang telah ada.
Ilmu
linguistik dalam perkembangannya dibagi menjadi tiga tahap yaitu :
1.
Spekuliasi : tahap dimana manusia
mulai membicarakan tentang sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan
dengan spekulatif. Artinya kesimpulan tersebut tidak didukung dengan
bukti-bukti empiris dan dilakukan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.
2.
Observasi dan klasifikasi : tahap
ini adalah tahap dimana manusia mulai mengumpulkan dan menggolongkan segala
fakta bahsa dengan teliti tanpa memberi teori atau membuat kesimpulan serta
mengumpulkan dan menggolongkan semua data secara teliti, tanpa memberi teori
apapun.
3.
Perumusan hipotesis : dalam tahap
ini mulai diajukannya pertanyaan-pertanyaan tentang masalah-masalah tertentu.
Dalam
setiap usaha/tahap usaha yang memiliki sifat ilmiah harus memenuhi tiga syarat
khusus yakni :
1.
Eskplisit
Kriteria eksplisit ini dibutuhkan para peneliti untuk
menandai pemahaman merupakan syarat mepembangan ilmiah, dengan pernyataan yang
eksplisit orang lain akan mudah memahaminya.
2.
Sistematis
Standart yang prosedural harus tersusun ketika digunakan
dalaam sebuah penelitian bahasa. Sehingga semua dapat terkontrol dengan baik
ketika berhadapan dengan semua kemungkinan.
3.
Objektif
Hasil eksperimen harus terbuka terhadap semua pengamatan
dan penilaian langsung. Sehingga bila eksperimen diulang hasil dan penilaiannya
tetap sama.
KELOMPOK VII
Penelitian Bahasa
1) Materi Penelitian Bahasa
Materi penelitian bahasa
dapat dilakukan terhadap materi kebahasaan itu sendiri, yang berhubungan
dengan sosial (sosiolinguistik), psikologi (psikolinguistik), serta
dengan budaya (antropolinguistik atau etnolinguistik). Sifat
bahasa yang sistematis mengakibatkan peneliti dapat meneliti berdasarkan subsistem,
dan bahasa bukanlah sistem yang tunggal, bahasa terdiri atas subsistem
fonologi, gramatika, (morfologi-sintaksis), dan leksikon. Bahasa
(linguistic) sebagai materi (objek) penelitian dapat ditentukan baik dari
strukturnya maupun dari bagian-bagian sebagai unsurnya.
2) Pengertian Fonologi
Fonologi
merupakan salah satu bagian dari tata bahasa, yaitu bagian yang mempelajari
bunyi-bunyi Bahasa pada umumnya. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi
objek studinya, fonologi dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1.
Fonetik adalah cabang studi fonologi
yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut
mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.
2. Fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi
bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.
Fonem-fonem
dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a.
Fonem-fonem
segmental
b.
Fonem-fonem
suprasegmental
3. Materi Penelitian Bahasa Bidang Fonologi
Materi penelitian
fonologi dapat mencakup fonetik, fonemik, (tentang fonem), termasuk pula
masalah phoneme environtment (lingkungan fonem), dan vowel harmony
(keselarasan vocal), serta fonestem (bahwa fonem memiliki makna, tetapi tidak
menjangkau batas fonem).
Unsur-unsur lain yang dapat diteliti di bidang fonologi,
diantaranya:
1.
Pengenalan
alat ucap (artikulasi)
2.
Proses
terjadinya bunyi bahasa
3.
Fonem
vocal dan fonem konsonan
4.
Fonem
klaster dan diftong
5.
Perubahan
varian fonem
6.
Fonem
serapan (dari bahasa asing), sebagai penesuaian dengan fonem suatu bahasa
akibat lintas bahasa
7.
Ejaan
sebagai bidang terapan dari fonologi
8.
Ketaksaan
fonem dalam lafal
KELOMPOK VIII
Morfologi dan Morfem
1. Pengertian Morfologi dan Morfem
a.
Morfologi
adalah suatu ilmu tata bahasa yang mempelajari tentang seluk beluk bentuk kata
(struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna
(arti) dan kelas kata.
b.
Morfem
adalah satuan bahasa atau gramatik terkecil yang bermakna, yang dapat berupa
imbuhan atau pun kata.
2. Klasifikasi Morfem
a.
Morfem
Bebas dan Morfem Terikat
Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem
lain dapat muncul dalam pertuturan,
misalnya: bentuk pulang, makan, rumah, dan bagus adalah terrmasuk morfem bebas.
Morfem terikat adalah morfem yang tanpa di gabung dulu dengan morfem yang lain
tidak dapat muncul dalam pertuturan, misalnya: bentuk juang, henti, gaul, dan
baur.
b.
Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
Pembedaan morfem utuh dan morfem
terbagi adalah berdasarkan bentuk formal yang dimiliki morfem tersebut. Semua
morfem bebas diatas adalah termasuk
morfem utuh. Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua
buah bagian yang terpisah.
c.
Morfem
Segmental dan Suprasegmental
Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh
fonem-fonem segmental seperti morfem (lihat), (lah), (sikat), dan (ber).
Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh
unsur-unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya.
d.
Morfem
Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal
Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara
inher telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dengan
morfem lain. Misalnya, morfem-morfem seperti (kuda), (pergi), (lari).
Morfem tidak bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang
tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri sebelum bergabung dengan
morfem lainnya dalam proses morfologis. Misalnya, morfem-morfem afiks (ber-),
(me-), (ter-), dan sebagainya.
e.
Morfem
Dasar, Pangkal, dan Akar
Morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar atau dasar
(base) dalam suatu proses morfologi.
Morfem pangkal digunakan untuk menyebut bentuk dasar
dalam proses infleksi atau proses pembubuhan afiks infleksi. Misalnya, dalam
B.Inggris kata Books pangkalnya adalah Book. Morfem akar (root)
digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.
Misalnya, kata Inggris untouchables akarnya adalah touch.
3.
Materi
Penelitian Bahasa Bidang Morfologi
Unsur-unsur yang dapat dijadikan objek penelitian di
bidang morfologi, antara lain:
1. Morfem Klaster
2. Morfem dan Kata
3. Pembentukan Kata: - derivasi dan infleksi
-
gabungan kata
4. Kelas Kata: - Nominal(I)
- Verbal(I)
- Adjectiva(I)
- Adverbial(I)
5.
Kata dan Partikel/Kata Tugas, antara lain: kata, partikel, kata tugas
6.
Pembentukan Kata
KELOMPOK IX
Sintaksis
A. Sintaksis
Pada
dasarnya sintaksis mengkaji prinsip dan kaidah yang dihasilkan oleh manusia.
Dan tujuan hasil akhir dari sintaksis adalah sebuah kalimat, didalamnya
terdapat kaidah sintaksis jika dihubungkan dengan bahasa arab sintaksis disebut
dengan ilmu nahwu
Membicarakan
sintaksis tentu tidak terlepas dari hal-hal berikut ini:
I.
Struktur sintaksis
Dalam struktur sintaksis mencakup masalah fungsi
sintaksis yang berkenaan dengan istilah subjek, predikat, objek, dan
keterangan, kategori sintaksis meliputi istilah nomina, verba, ajedtifa, dan
numeria, dan peran dan peran sintaksis.
II.
Satuan-satuan sitaksis yang mencakup
kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana
III.
Hal-hal yang berkaitan dengan
sintaksis meliputi masalah modus, aspek dan lian sebagainya.
B. Materi
Penelitian Bidang Sintaksis Dalam Bidang Konteks Bahasa Arab
Adapun
pembahasan Penelitian sintaksis dalam konteks bahasa arab meliputi
1. Frase
Farase adalah unsur terkecil yang terdapat dalam
sintaksis yang berupa satuan gramatikal dan gabungan kata yang bersifat
nonprediktif, bisa juga disebut sebagai gabungan kata yang mengisi sintaksis
didalam kalimat.
Materi frase meliputi
a) Kelas
frase
i.
Frase verbal
ii.
Frrase nominal
iii.
Frase adjektival
iv.
Frase pronominal
v.
Frase adverbial koordinatif
vi.
Fras numerial
vii.
Frase interogatif koordinatif
viii.
Frase demonstratif koordinatif
b) Tipe
frase
Berdasarkan tipenya frase dibagi
menjadi dua
1) Frase
endosentris
Frase endosentris adalah frase yang salah satu unsur
komponennya memiliki prilaku yang sma dengan keseluruhan sintaksisnya.
2) Frase
Eksosentris
Frase eksosentris adalah kebalikan dari endosentris, yang
komponennya tidak sama dengan prilaku sintaksis dengan keseluruhannya.
2. Klausa
Klausa adalah runtutan kata-kata berkonstraktif
predikatif. Artinya didalam konstraktif terdapat frase, yang berfungsi sebagai
predikat dan yang lain berfungsi sebagai predikat, objek dan keterangan. Dalam
bahasa arab istilah klausa kurang dikenal karena dalam buku buku klasik tidak
ada istilah khusus mengenain klausa.
Abdul chaer membagi klausa menjadi dua
I.
Klausa bebas
Klausa bebas maempunyai unsur lengkap sekurang kurangya
mempunyai subjek, predikat, serta bisa berpotensi menjadi kalimat mayor.
II.
Klausa trikat
Klausa terikat adalah klausa yang memiliki struktur tidak
lengkap, unsur yang ada tidak tidak hanya objek, predikat dan keterangan saja.
Oleh sebab itu klausa terikat tidak mempunyai potensi menjadi kalimat mayor.
Berdasarkan kategori unsur
segmentalnya ynag menjadi predikatnya klausa dibedakan menjadi:
·
Klausa verbal
·
Klausa nominal
·
Klausa ajektifa
·
Klausa adverbial
·
Klausa preposisional
·
Klausa numeral
3. Kalimat
Kalimat adalah satuan diatas klausa dan dibawah wacana,
kalimat merupakan satuan sintaksis yang tersusun dari konsituen dasar,yang
berupa klausa dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan serta disertai dengan
intonasi final.
Dalam bahasa arab kalimat adalah konstruksi yang tersusun
dari dua kata atau lebih yang mengandung arti, disengaja, serta bahasa arab.
Materi penelitian kalimat meliputi.
a.
Kalimat bebas
Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai posisi umtuk
menjadi ujaran lengkap dapat memulai paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat
yang menjelaskannya.
4. Paragraf
sampai Wacana
Paragraf adalah bagian bab dalam suatu kerangka. Adapun
materi penelitian paragraf yang membentuk wacana meliputi:
i.
Gendre
Ø
Paragraf Naratif
Paragraf naratif adalah suatu bentuk wacana yang
menggambrkan dengan sejelas-jelasnya kepda pembaca suatu pristiwa dalam urutan
waktu tertentu.
Ø
Pragraf prosedural
Suatu paragraf yang menjelaskan suatu peroses bekerjanya
urutan langkah yang meliputi waktu, ruang, klimaks, antiklimaks.
Ø
Paragraf ekspositori
Paragraf yang isinya menjelaskan suatu topik yang berupa
informasi dengan urut, jelas dan detail.
Ø
Paragraf hartatori
Teks yang menyajikan argumen atau alasan untuk mendukung
pendapat.
ii.
Partikel wacana
Ø
Fokus
Ø
Topikalisasi
Ø
Unsur protagis/antagonis
iii.
Statistika
Ø
Jenis konsitituen
Ø
Jumlah konsitituen
Ø
Susunan
·
Background
·
Foreground
Adapun
wacana suatu satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalan herarki gramatikal
merupakn suatu satuan gramatikal tertinggi dan terbesar. Materi penelitian
bahasa antara lain:
a.
Unsur koheresi dan kohesif
Persyaratan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi jika
dalam wacana tersebut sudah terbina kekosian, yaitu adanya keserasian hubungan
antara unsur yang aa dalam wacana tersebut.
b.
Unsur inferensi dan referensi.
Inferensi
terjadi bila proses yang harus dilakukan oleh pendengar atau pembaca memahami
makna yang secara harfiah tidak terdapat pada wacana yang akan diungkapkan oleh
pembaca atau penulis.
KELOMPOK X
Metode padan
A.
Pengertian
Metode padan dan alat penentunya
Metode padan adalah cara yang digunakan dalam upaya
menemukan kaidah dalam tahap analisis data yang alat penentunya di luar,
terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan. Sedangkan
alat penentunya yaitu:
1. Metode padan referensial dengan alat penentunya kenyataan
yang ditunjuk oleh bahasa atau referent bahasa
2. Metode padan fonetik artikulatoris dengan alat penentunya
berupa organ wicara
3. Metode padan translasional dengan alat penentunya bahasa
lain
4. Metode padan ortografis dengan alat penentunya perekam
dan pengawet bahasa
5. Metode padan pragmatis dengan alat penentunya mitra atau
kawan wicara
B.
Metode
padan penelitian bahasa secara sinkronis
1. Metode padan intralingual
Adalah
metode analisis dengan cara menghubungbandingkan unsur-unsur yang bersifat
lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa yang
berbeda
2. Metode padan
ekstralingual
Adalah
metode yang digunakan untuk menganalisis unsure yang bersifat ekstralingual,
seperti menghubungkan masalah bahasa dengan hal yang berada diluar bahasa.
C.
Teknik
metode padan pada analisis data
1. Teknik dasar
Teknik
dasar yang dimaksud adalah teknik pilah unsure penentu (PUP) yang alatnya
berupa daya pilah yang bersifat mental yang dimiliki oleh penelitinya.
2. Teknik lanjutan
Setelah
teknik dasar dilalui, barulah melaksanakan teknik lanjutan, yang dimaksud
teknik ini adalah hubungan banding antara semua unsure penentu yang relevan
dengan semua unsure data yang ditentukan.
3. Pengertian “alat”
Yang dimaksud alat
disini adalah alat penentu dan alat penggerak bagi alat penentu , maka alat
penggerak bagi alat penentu disebut dengan istilah piranti, sedangkan alat
penentu disebut dengan istilah alat.
KELOMPOK 11
Metode Referensial
1.
MAKNA REFERENSIAL
Makna
adalah suatu pengertian atau konsep yang terdapat pada sebuah makna linguistik.
Sedangkan referensial adalah semua kata atau makna yang memiliki acuan. Jadi
makna referensial yaitu suatu makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan
(acuan).
2.
METODE ANALISIS REFERENSIAL
Kita
dapat mengenali makna dari suatu istilah atau ungkapan, dan juga berdasarkan
hubungan antar istilah atau ungkapan itu dengan suatu yang diacunya. Dalam
teori referensial ini memiliki hubungan dengan konsep mengenai sesuatu yang
telah disepakati bersama (oleh masyarakat bahasa), seperti meja dan kursi
yang bermakna referensialkarena keduanya memiliki referen, yaitu sejenis
perabot rumah tangga yang disebut “meja” dan “kursi”.
Jadi menurut teori referensial ini sesuatu kata
atau ungkapan dianggap memiliki makna apabila telah memiliki acuan.
3.
HUBUNGAN METODE REFERENSIAL DENGAN
SUATU MAKNA
Hubungan
referensial adalah hubungan yang terdapat antara sebuah kata dan dunia diluar
bahasa yang diacu oleh pembicaraan. Hubungan antara kata (lambang), makna
(konsep atau referens), dan sesuatu yang diacu adalah hubungan tidak langsung.
Hubungan tersebut digambarkan melalui apa yang disebut segitiaga semiotik,
artinya ada media yang terletak diantara keduanya. Kata merupakan lambang yang
menghubungkan dengan antara konsep dan acuan.
4.
ALAT PENENTU METODE ANALISIS
REFERENSIAL
Dalam
menginterprestasikan data, dengan menggunakan metode referensial. Artinya data
yang berupa satuan lingual dianalisis maknanya sesuai dengan kenyataanyang
ditunjuk oleh suatu satuan yang ada. Metode analisis data yang lainnya dalam
penelitian digunakan untuk merujuk pada metode etnografi yaitu dengan
melakuakan analisis wacana.
KELOMPOK 12
Model analisis linguistik morfologi
Model analaisi linguistik sebuah sistem data dan aturan
(ciri-ciri, jenis, struktul, level dan lain-lain) yang secara bersama-sama
memperlihatkan sebuah peilaku yang sama dengan otak manusia dalam memahami dan
memproduksi kalimat secara lisan dan tulisan. Dalam linguistik teoritis modern,
ada yang mempelajari fonologi, ada morfologi, dan ada juga sintaksis, semantik
serta pragmatik. Dalam fonologi, ada banyak membahas soal aksentuasi, sementara
dalam semantik kita akan membahas soal tindak tutur, dan lain-lain. Kriteria
kebenaran utama dalam riset linguistik teoritis adalah karakter logisnya,
konsistensi, dan keterkaitan antara konsepsi-konsepi intuitif mengenai fenomena
linguistik yang ada dari pengemuka teori dan anggota lain dari masyarakat
linguistik. Model linguistik fungsional memperhatikan masalah prilaku bahasa
yang tampak pada manusia dan kurang memperhatikan aktivitas fisiologi otak.
Hakikat Morfologi dalam artian analisis linguistik
morfologi merupakan suatu model penganalisisan terhadap suatu bentuk hal
morfologi yang didalamnya membicarakan seluk beluk morfem, bagaimana menentukan
suatu bentuk morfem atau bukan, bagaiman morfem-morfem itu berproses menjadi
kata, yaitu satuan terkecil didalam sintaksis. Belajar morfologi pada dasarnya belajar untuk
mengetahui proses terbentuknya kata secara gramatikal. Proses terbentuknya
kata-kata sering disebut dengan Morfofonologi, Morfofonemik. Tujuan kajian terhadap morfem
dan kata adalah terumuskannya sistem pembentukan kata dalam suatu bahasa.
Materi Bidang Morfologi pada
bidang morfologi akan melibatkan; unsur yang memiliki makna (morfem bebas) dan
unsur yang ikut mendukung makna (morfem terikat). Proses morfemis yang harus
diperhatikan dan dapat menjadi materi penelitian pada tataran morfologi dan
fonologi, anatara lain afokasi, reduplikasi (duplikasi). Pada meteri bidang
morfologi terdapat hal yang tidak luput dari pembahasannya, yakni pemerolehan
morfologi.