Jumat, 03 Juni 2016

progres report metodologi penelitian bahasa



Muhamad Sirajudin
2812133038
PBA 6B
PROGRES REPORT
KELOMPOK 1
Metode penemuan kebenaran
Metode penemuan kebenaran dilihat dari pengertiannya dapat diperinci dari kata metode dan kebenaran. Metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai tujuan, sebagai contoh untuk menguji serangkaian hipotesis dengan mempergunakan teknik serta alat-alat tertentu. Sedangkan arti kebenaran diantaranya yaitu keadaan sesuatu yang benar, dengan sungguh-sungguh ada. Kebenaran merupakan tema sentral didalam filsafat ilmu.
Kebenaran adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Menusia selalu ingin tahu kebenaran, karena hanya kebenaranlah yang bisa memuaskan rasa ingin tahu manusia, dengan kata lain tujuan pengetahuan adalah mengathui kebenaran. Tujuan ilmu mencapai kebenaran, dalam ilmu manusia ingin memperoleh penegtahuan yang benar, karena ilmu merupakan pengetahuan yang sistematis, maka pengetahuan yang dituju ilmu adalah pengethuan ilmiah. Kebenaran ialah persesuaian antara pengetahuan dan objeknya. Pengetahuan yang benar adalah pengatahuan yang yang sesuai dengan objeknya.
Uaraian diatas dapat disimpulkan bahwa metode penemuan kebenaran adalah sekumpulan cara/ prosedur yang digunakan untuk menemukan persesuaian antara pengetahuan yang objeknya berdasarkan bukti ilmiah yang kuat.
Dalam metode penemuan kebenaran terdapat teori sebagai penentunya.
1.      Teori koherensi (kebenaran saling berhubungan) suatu proposisi (pernyataan) dianggap benar apabila pernyataan tersebut bersifat koheren atau konsisten atau saling berhubungan dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya dianggap benar. Teori koherensi dipergunakan pada proses penalaran teoritis yang didasarkan pada logika deduktif.
2.      Teori korespondensi (saling bersesuaian) merupakan teori digunakan untuk proses pembuktian secara empiris dalam pengumpulan data-data yang mendukung suatu pernyataan yang telah dibuat sebalumnya.
3.      Teori pragmatisme (teori kensekuensi kegunaan) teori ini beranggapan bahwa kebenaran suatu pernyatan diukur dengan kriteria. Suatu pernyataan dikatakan benar jika konsekuensi dari pernyataan tersebut memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Pragmatisme merupakan teori dalam penentuan kriteria kebenaran.
Metode penemuan kebenaran :1) penemuan dengan menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah, dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala jalan atau cara dalam rangka ilmu tersebut untuk sampai kepada kesatuan pengetahuan. Penemuan kebenaran dengan cara ilmiah adalah berupa kegiatan peneliti ilmiah dan dibangun atas teori-teori tertentu. Penelitian ilmiah, yaitu penelitian yang dilakukan secara sistematis dan terkontrol berdasarkan data-data empiris yang ditemukan dilapangan. 2) penemuan kebenaran dengan metode non-ilmiah ialah; (a) penemuan kebenaran secara kebetulan merupakan peristiwa yang tidak disengaja kadang-kadang ternyata menghasilkan suatu kebenaran yang menambah perbendaharaan pengetahuan manusia, karena sebelumnya kebenaran itu tidaklah diketahui, (b) penemuan kebenaran dengan trial and error. Mencoba sesuatu secara berulang-ulang, walaupun selalu menemukan kegagalan dan akhirnya menemukan suatu kebenaran disebut cara kerja trial and error, (c) penemuan kebenaran melalui otoritas atau kewibawaan. Ototritas ilmiah adalah orang-orang yang biasanya telah menempuh pendidikan formal tertinggal atau yang mempunyai pengalaman kerja ilmiah dalam sesuatu bidang yang cukup banyak, (d) penemuan kebenaran secara spekulatif. Dalam kata lain memilih salah satu dari beberapa kemungkinan pemecahan masalah itu, walaupun tanpa meyakini bahwa pilihannya itu sebagai cara yang setepat-tepatnya, (e) penemuan kebenaran dengan akal sehat. Dua hal yang berbeda sekalipun dalam batas tertentu keduanya mengandung persamaan. Dan walaupun akal sehat yang berupa konsep dan bagan konsep itu dapat menunjukan hal yang benar, namun dapat menyesatkan. Penemuan ilmiah ternyata membantah kebenaran akal sehat tersebut. (f) dengan akal sehat orang cenderung kearah pembuatan generalisasi yang terlalu luas, kemudian merupakan prassangka. (g) penemuan kebenaran melalui pendekatan intuitif. Dalam pendekatan ini orang menentukan “pendapat” mengenai suatu berdasrkan atas “pengethuan” yang langsung atau didapat dengan cepat melalui proses yang tidak didasari ata tidak difikirkan lebih dahulu. Dengan instuisi, orang memberikan penilaian tanpa didahului suatu renungan.


KELOMPOK II
Metode dan Metodologi
Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Metode dirumuskan sebagai suatu proses atau prosedur sistematik berdasarkan prinsip dan teknik ilmiah yang dipakai oleh suatu disiplin ilmu unyuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Metodologi diartikan sebagai ilmu yang membicarakan tentang metode-metode. Pengkajian mengenai  model atu bentuk umum prosedur praktis penelitian menurut metodologi itu, agar dapat tercapai tujuan yaitu kebenaran ilmiah. Metodologi dalam linguistik harus dipertimbangkan dari 2 segi, yaitu peneliti itu sendiri yang mencakup pengumpulan data teknik beserta cara, dak teknik, prosedur yang ditempuh dan segi lain adalah metode kajian (analisis) yang melibatkan pendekatan (teori) sebagai alat analisis data penelitian.
Metodologi penelitian bahasa mangkaji hakikat bagaimana seseorang mencari kebenaran tentang sebuah bahasa. Hakikat metodologi diterapkan dalam penelitian bahasa serta pengejawantahannya dalam berbagai model metodologi penelitian bahasa.
Keterkaitan antara Metode, Metodologi, Epistimologi ketika berbicara mengenai upaya yang dilikukan untuk menggali suatu fakta yang terjadi. Oleh hal tersebut epistimologi adalah suatu cabang filsafat yang mengkaji tentang usaha dan upaya untuk mancari tahu suatu kebenaran secara hakiki. Dalam kajian tentang epistimologi sering dijumpai kata metodologi yang merpakan pengakajian yang mendalam  tentang prosedur-prosedur yang ada pada metode tersebut.
Unsur-unsur metodologi ; a) interpretasi ;menafsirkan atau membuat tafsiran, tetapi tidak bersifat subjektif malainkan bersifat objektif untuk dapat memperoleh pengertian dan pemehaman, b) deduksi dan induksi; setiap ilmu pengetahuan terdapat metode drduksi dan induksi, hal ini menurut pengertian siklus empiris, c) koherensi intern; usaha memahami secara benar guna memperoleh hakikat dengan menunjukkan semua unsur struktural yang konsisten, d) holistis; tinjauan secara lebih dalam  untuk mencapai suatu kebenaran secara utuh, e) kesinambungan historis; dalam perkemabangan pribadi harus dapat difahami melalui suatu proses kesinambungan , karena rangkaian kehidupan manusia merupakan mata rantai yang tidak terputus, f) idealis; upaya penelitian untuk memperoleh hasil yang ideal atau sempurna, g) komperasi; merupakan usaha untuk memperbandingkan sifat hakikat dalam objek penelitian sehingga dapat menjadi lebih jelas dan lebih tajam, h) analogical; adalah filsafat meneliti arti, nilai, dan maksud yang diekspresikan dalam fakta dan data, i) deskripsi; seluruh hasil penelitian harus dideskripsikan. Data yang dieksplisitkan memungkinkan dapat dipahami secara keseluruhan.
Model metodologi penelitian bahasa ;1) metodologi aliran rasional tradisional analisis yang menguji kalimat sebagai suatu komponen logika. 2) metodologi linguistik struktural; penelitian dengan mengajukan prosedur penemuan dengan melacak data dari penutur asli atau alamiah.3) model penelitian transformatif generatif merupakan model yang penganutnya mengemukakan tujuan linguistik adalah menemukan kaidah bahasa. Secara metodologis, tujuan ini dapat diamati pada dua tataran, kepadaan deskriptif dan kepadaan eksplanatif.


KELOMPOK III
Metode penelitian
Metode penelitian merupakan alat, prosedur, dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian (dalam mengumpulakan data). Metode penelitian bahasa berhubungan erat dengan tujuan penelitian bahasa. Maka dalam hal ini metode penelitian merupakan cara pemecahan masalah penelitian yang dilaksanakan secara terencana dan cermat dengan meksud mendapatkan fakta dan simpulan agar memahami, menjelaskan, meramalkan, mengendalikan keadaan.
Jenis-jenis penelitian : 1) penelitian berdasarkan tujuan (penelitian dasar, penelitian terapan), 2) penelitian berdasarkan jenis data (kualitatif, kuantitaif), 3) penelitian berdasarkan aspek metode (penelitian eksperimen, penelitian eksperimen kuasi, penelitian subjek tunggal, penelitian deskriptif, penelitian komperatif, penelitian korelasional, penelitian survei, penelitian ex post facto, penelitian etnhografik, penelitian fenomenologi, studi kasus, grounded thoery, studi kritis, penelitian non-interaktif).
Subjek penelitian a) populasi; wilayah generaliasai terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan, b) sampel; sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi, c) sampling; merupakan tektnik didalam pengambilan sampel yang dilakukan dengan metode “ probability sampling, nonprobability sampling”.
Teknik pengumpulan data : a) kuisioner atau angket; pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadi atau hal-hal yang di ketahui, b) dokumentasi; mencari dan mengumpulkan data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, dan lain-lain, c) interview (wawancara); pengumpulan data dengan dengan menggunakan menjadi responden sebagai sasaran didalam pengumpulannya, hal ini dilakukan dengan secara terstruktur, d) observasi; teknik pengumpulan data denga menggukan cara wawancara dan kuisioner dan sifat pengumpulan datanyah bersifat bebas dan tidak terbatas. Sifat observasi terdiri atas observasi berperanserta, dan observasi nonpartisipan.


KELOMPOK IV
Penelitian kualitatif
Hakikat penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan yang juga disebut pendekatan investigasi karena biasanya peneliti mengumpulkan data dengan cara bertatap muka langsung dan berinteraksi dengann orang-orang ditempat penelitian. Dengan pendekatan ini peniliti akan menggambarkan dan menganalisi setiap individu dalam kehidupan dan penelitiannya. Penelitian kualitatif sebagai jenis penilitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melaui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa model, seperti studi kasus, biografi fenomenologi, analisis teks, etnografi. Penelitian ini termasuk jenis penelitian dengan paradigma pos-positivism, bertujuan menafsirkan objek yang teliti, dengan menggunakan berbagai metode dilaksanakan pada latar alamiah.
Penelitian kualitatif mengansumsi realita sebagai sesuatu yang dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Peneliti menggunakan metode kualitatif percaya bahwa realita adalah suatu bentuk sosial. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang penting untuk memahami suatu fenomena sosial dan persepektif individu yang diteliti. Tujuan pokonya adalah menggambarkan, mempelajari dan menjelaskan suatu fenomena dalam proses pendidikan. Tujuan pendekatan kualitatif untuk menganalisis yang diteliti agar diperoleh informasi mengenai perilaku, perasaan, keyakinan ide, bentuk pemikiran, serta dapat menghasilkan pemikiran, dan mengahasilkan teori.
Penelitian kualitatif disebut penelitian “ atau “alamiah” ,”etnografi”, “ ineraksionis simbolik”, persepektif kedalam”, dan lain-lain. Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan masyarakat tersebut melalui bahasannya sendiri.
Ciri-ciri penelitian kualitatif , a) latar pelaksanaan penelitian adalah alamiah, sesuai dengan konteks yang alami, konteks dan realita menyatu. pemahaman yang utuh tentang menyatu padunya realitas dan konteks didasarkan pada tiga asumsi ontologi, yaitu (1) tindakan mengamati memngaruhi apa yang diamati,(2) konteks yang menentukan makna temuan bagi konteks yang lain, (3) struktur nilai kontekstual merupakan penentu tahap apa yang dicari, b) intrumen penelitian kualitatif adalah manusia dan peneliti, c) tiga metode yang diterapkan (pengamatan, wawancara, telaah dokumen), d) metode menganalisis data dalam penelitian dilakukan dengan dua cara; deduktif dan induktif, e) penelitina kualitatif teori lajir dari data, bukan melahirkan data, f) bersifat deskriptif dalam pengolahan datanya, g) mementinkan proses dalam penelitiannya, h) batas ditentukan oleh fokus dalam peneleitian kualitatif, i) validitas, reliabilitas, dan objektivitas penelitian berbeda dengan kuantitatif, j) penelitian bersifat sementara, k) hasil penelitian berupa pengertian dan interpretasi yang dihasilkan melalui kesepakatan sumber data atau informan.


KELOMPOK V
Informan Penelitian
A.      Pengertian Informan penelitian
Informan adalah orang yang berpengaruh dalam proses perolehan data atau bisa disebut key member yang memegang kunci sumber data penelitian. Informan adalah orang yang berada pada lingkup penelitian, artinya orang yang dapat memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Jadi, informan harus mempunyai banyak pengalaman tentang latar penelitian. Yang termasuk informan diantaranya adalah seperti para professional dan para ahli.
B.      Kegunaan informan penelitian
1.      membantu agar cepat dan teliti dalam konteks setempat, terutama bagi peneliti yang belum mengalami latihan etnografi.
2.      Agar dalam waktu yang singkat dapat banyak informasi yang terkumpul sebagai sampling internal
C.      Persyaratan sebagi informan penelitian
1.      Jujur
2.      Taat pada janji
3.      Patuh pada peraturan
4.      Suka berbicara
5.      Tidak termasuk anggota salah satu kelompok yang bertentangan dalam  latar penelitian
6.      Mempunyai pandangan tertentu tentang peristiwa yang terjadi
D.     Kriteria pemilihan informan
1.      Memiliki pengalaman pribadi dengan masalah yang diteliti
2.      Dengan usia dewasa
3.      Sehat jasmani dan rohani
4.      Bersifat netral dan tidak mempunyai kepentingan pribadi untuk menjelekkan orang lain
5.      Memiliki pengetahuan yang luas dengan permasalahan yang diteliti


KELOMPOK VI
Metode Ilmiah Linguistik
Pengertian metode ilmiah linguistik yaitu suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah tentang bahasa untuk memperoleh pengetahuan baru atau pengembangan pengetahuan yang telah ada.
Ilmu linguistik dalam perkembangannya dibagi menjadi tiga tahap yaitu :
1.      Spekuliasi : tahap dimana manusia mulai membicarakan tentang sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan spekulatif. Artinya kesimpulan tersebut tidak didukung dengan bukti-bukti empiris dan dilakukan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.
2.      Observasi dan klasifikasi : tahap ini adalah tahap dimana manusia mulai mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahsa dengan teliti tanpa memberi teori atau membuat kesimpulan serta mengumpulkan dan menggolongkan semua data secara teliti, tanpa memberi teori apapun.
3.      Perumusan hipotesis : dalam tahap ini mulai diajukannya pertanyaan-pertanyaan tentang masalah-masalah tertentu.
Dalam setiap usaha/tahap usaha yang memiliki sifat ilmiah harus memenuhi tiga syarat khusus yakni :
1.      Eskplisit
Kriteria eksplisit ini dibutuhkan para peneliti untuk menandai pemahaman merupakan syarat mepembangan ilmiah, dengan pernyataan yang eksplisit orang lain akan mudah memahaminya.
2.      Sistematis
Standart yang prosedural harus tersusun ketika digunakan dalaam sebuah penelitian bahasa. Sehingga semua dapat terkontrol dengan baik ketika berhadapan dengan semua kemungkinan.
3.      Objektif
Hasil eksperimen harus terbuka terhadap semua pengamatan dan penilaian langsung. Sehingga bila eksperimen diulang hasil dan penilaiannya tetap sama.


KELOMPOK VII
Penelitian Bahasa
1)    Materi Penelitian Bahasa
Materi penelitian bahasa dapat dilakukan terhadap materi kebahasaan itu sendiri, yang   berhubungan  dengan sosial (sosiolinguistik), psikologi (psikolinguistik), serta dengan budaya (antropolinguistik atau etnolinguistik). Sifat bahasa yang sistematis mengakibatkan peneliti dapat meneliti berdasarkan subsistem, dan bahasa bukanlah sistem yang tunggal, bahasa terdiri atas subsistem fonologi, gramatika, (morfologi-sintaksis), dan leksikon. Bahasa (linguistic) sebagai materi (objek) penelitian dapat ditentukan baik dari strukturnya maupun dari bagian-bagian sebagai unsurnya.
2)    Pengertian Fonologi
Fonologi merupakan salah satu bagian dari tata bahasa, yaitu bagian yang mempelajari bunyi-bunyi Bahasa pada umumnya. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1.      Fonetik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.
2.      Fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.
Fonem-fonem dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a.       Fonem-fonem segmental
b.      Fonem-fonem suprasegmental
3.      Materi Penelitian Bahasa Bidang Fonologi
Materi penelitian fonologi dapat mencakup fonetik, fonemik, (tentang fonem), termasuk pula masalah phoneme environtment (lingkungan fonem), dan vowel harmony (keselarasan vocal), serta fonestem (bahwa fonem memiliki makna, tetapi tidak menjangkau batas fonem).
Unsur-unsur lain yang dapat diteliti di bidang fonologi, diantaranya:
1.      Pengenalan alat ucap (artikulasi)
2.      Proses terjadinya bunyi bahasa
3.      Fonem vocal dan fonem konsonan
4.      Fonem klaster dan diftong
5.      Perubahan varian fonem
6.      Fonem serapan (dari bahasa asing), sebagai penesuaian dengan fonem suatu bahasa akibat lintas bahasa
7.      Ejaan sebagai bidang terapan dari fonologi
8.      Ketaksaan fonem dalam lafal


KELOMPOK VIII
Morfologi dan Morfem
1.     Pengertian Morfologi dan Morfem
a.       Morfologi adalah suatu ilmu tata bahasa yang mempelajari tentang seluk beluk bentuk kata (struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna (arti) dan kelas kata.
b.      Morfem adalah satuan bahasa atau gramatik terkecil yang bermakna, yang dapat berupa imbuhan atau pun kata.
2.     Klasifikasi Morfem
a.       Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam  pertuturan, misalnya: bentuk pulang, makan, rumah, dan bagus adalah terrmasuk morfem bebas.          Morfem terikat adalah morfem yang tanpa di gabung dulu dengan morfem yang lain tidak dapat muncul dalam pertuturan, misalnya: bentuk juang, henti, gaul, dan baur.
b.      Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
Pembedaan morfem utuh dan morfem terbagi adalah berdasarkan bentuk formal yang dimiliki morfem tersebut. Semua morfem bebas diatas adalah termasuk morfem utuh. Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah.
c.       Morfem Segmental dan Suprasegmental
Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental seperti morfem (lihat), (lah), (sikat), dan (ber).
Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya.
d.      Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal
Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inher telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dengan morfem lain. Misalnya, morfem-morfem seperti (kuda), (pergi), (lari).
Morfem tidak bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri sebelum bergabung dengan morfem lainnya dalam proses morfologis. Misalnya, morfem-morfem afiks (ber-), (me-), (ter-), dan sebagainya.
e.       Morfem Dasar, Pangkal, dan Akar
Morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar atau dasar (base) dalam suatu proses morfologi.
Morfem pangkal digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi atau proses pembubuhan afiks infleksi. Misalnya, dalam B.Inggris kata Books pangkalnya adalah Book. Morfem akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Misalnya, kata Inggris untouchables akarnya adalah touch.
3.      Materi Penelitian Bahasa Bidang Morfologi
Unsur-unsur yang dapat dijadikan objek penelitian di bidang morfologi, antara lain:
1.      Morfem Klaster
2.      Morfem dan Kata
3.      Pembentukan Kata:         - derivasi dan infleksi
            - gabungan kata
                        4.   Kelas Kata:                       - Nominal(I)
                                                                        - Verbal(I)
                                                                        - Adjectiva(I)
                                                                        - Adverbial(I)
                        5. Kata dan Partikel/Kata Tugas, antara lain: kata, partikel, kata tugas
                        6. Pembentukan Kata
KELOMPOK IX
Sintaksis
A.     Sintaksis
Pada dasarnya sintaksis mengkaji prinsip dan kaidah yang dihasilkan oleh manusia. Dan tujuan hasil akhir dari sintaksis adalah sebuah kalimat, didalamnya terdapat kaidah sintaksis jika dihubungkan dengan bahasa arab sintaksis disebut dengan ilmu nahwu
Membicarakan sintaksis tentu tidak terlepas dari hal-hal berikut ini:
                                I.            Struktur sintaksis
Dalam struktur sintaksis mencakup masalah fungsi sintaksis yang berkenaan dengan istilah subjek, predikat, objek, dan keterangan, kategori sintaksis meliputi istilah nomina, verba, ajedtifa, dan numeria, dan peran dan peran sintaksis.
                              II.            Satuan-satuan sitaksis yang mencakup kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana
                           III.            Hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis meliputi masalah modus, aspek dan lian sebagainya.
B.     Materi Penelitian Bidang Sintaksis Dalam Bidang Konteks Bahasa Arab
Adapun pembahasan Penelitian sintaksis dalam konteks bahasa arab meliputi
1.     Frase
Farase adalah unsur terkecil yang terdapat dalam sintaksis yang berupa satuan gramatikal dan gabungan kata yang bersifat nonprediktif, bisa juga disebut sebagai gabungan kata yang mengisi sintaksis didalam kalimat.
Materi frase meliputi
a)     Kelas frase
                                     i.            Frase verbal
                                   ii.            Frrase nominal
                                 iii.            Frase adjektival
                                 iv.            Frase pronominal
                                   v.            Frase adverbial koordinatif
                                 vi.            Fras numerial
                               vii.            Frase interogatif koordinatif
                             viii.            Frase demonstratif koordinatif
b)     Tipe frase
Berdasarkan tipenya frase dibagi menjadi dua
1)     Frase endosentris
Frase endosentris adalah frase yang salah satu unsur komponennya memiliki prilaku yang sma dengan keseluruhan sintaksisnya.
2)     Frase Eksosentris
Frase eksosentris adalah kebalikan dari endosentris, yang komponennya tidak sama dengan prilaku sintaksis dengan keseluruhannya.
2.     Klausa
Klausa adalah runtutan kata-kata berkonstraktif predikatif. Artinya didalam konstraktif terdapat frase, yang berfungsi sebagai predikat dan yang lain berfungsi sebagai predikat, objek dan keterangan. Dalam bahasa arab istilah klausa kurang dikenal karena dalam buku buku klasik tidak ada istilah khusus mengenain klausa.
Abdul chaer membagi klausa menjadi dua
                                                          I.            Klausa bebas
Klausa bebas maempunyai unsur lengkap sekurang kurangya mempunyai subjek, predikat, serta bisa berpotensi menjadi kalimat mayor.
                                                        II.            Klausa trikat
Klausa terikat adalah klausa yang memiliki struktur tidak lengkap, unsur yang ada tidak tidak hanya objek, predikat dan keterangan saja. Oleh sebab itu klausa terikat tidak mempunyai potensi menjadi kalimat mayor.
Berdasarkan kategori unsur segmentalnya ynag menjadi predikatnya klausa dibedakan menjadi:
·         Klausa verbal
·         Klausa nominal
·         Klausa ajektifa
·         Klausa adverbial
·         Klausa preposisional
·         Klausa numeral
3.     Kalimat
Kalimat adalah satuan diatas klausa dan dibawah wacana, kalimat merupakan satuan sintaksis yang tersusun dari konsituen dasar,yang berupa klausa dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan serta disertai dengan intonasi final.
Dalam bahasa arab kalimat adalah konstruksi yang tersusun dari dua kata atau lebih yang mengandung arti, disengaja, serta bahasa arab. Materi penelitian kalimat meliputi.

a.       Kalimat bebas
Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai posisi umtuk menjadi ujaran lengkap dapat memulai paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat yang menjelaskannya.
4.     Paragraf sampai Wacana
Paragraf adalah bagian bab dalam suatu kerangka. Adapun materi penelitian paragraf yang membentuk wacana meliputi:
                                                           i.            Gendre
Ø  Paragraf Naratif
Paragraf naratif adalah suatu bentuk wacana yang menggambrkan dengan sejelas-jelasnya kepda pembaca suatu pristiwa dalam urutan waktu tertentu.
Ø  Pragraf prosedural
Suatu paragraf yang menjelaskan suatu peroses bekerjanya urutan langkah yang meliputi waktu, ruang, klimaks, antiklimaks.
Ø  Paragraf ekspositori
Paragraf yang isinya menjelaskan suatu topik yang berupa informasi dengan urut, jelas dan detail.
Ø  Paragraf hartatori
Teks yang menyajikan argumen atau alasan untuk mendukung pendapat.
                                                         ii.            Partikel wacana
Ø  Fokus
Ø  Topikalisasi
Ø  Unsur protagis/antagonis
                                                       iii.            Statistika
Ø  Jenis konsitituen
Ø  Jumlah konsitituen
Ø  Susunan
·         Background
·         Foreground
Adapun wacana suatu satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalan herarki gramatikal merupakn suatu satuan gramatikal tertinggi dan terbesar. Materi penelitian bahasa antara lain:
a.       Unsur koheresi dan kohesif
Persyaratan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi jika dalam wacana tersebut sudah terbina kekosian, yaitu adanya keserasian hubungan antara unsur yang aa dalam wacana tersebut.
b.      Unsur inferensi dan referensi.
Inferensi terjadi bila proses yang harus dilakukan oleh pendengar atau pembaca memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat pada wacana yang akan diungkapkan oleh pembaca atau penulis.




KELOMPOK X
Metode padan
A.      Pengertian Metode padan dan alat penentunya
Metode padan adalah cara yang digunakan dalam upaya menemukan kaidah dalam tahap analisis data yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan. Sedangkan alat penentunya yaitu:
1.      Metode padan referensial dengan alat penentunya kenyataan yang ditunjuk oleh bahasa atau referent bahasa
2.      Metode padan fonetik artikulatoris dengan alat penentunya berupa organ wicara
3.      Metode padan translasional dengan alat penentunya bahasa lain
4.      Metode padan ortografis dengan alat penentunya perekam dan pengawet bahasa
5.      Metode padan pragmatis dengan alat penentunya mitra atau kawan wicara
B.      Metode padan penelitian bahasa secara sinkronis
1.      Metode padan intralingual
Adalah metode analisis dengan cara menghubungbandingkan unsur-unsur yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa yang berbeda
2.       Metode padan ekstralingual
Adalah metode yang digunakan untuk menganalisis unsure yang bersifat ekstralingual, seperti menghubungkan masalah bahasa dengan hal yang berada diluar bahasa.
C.      Teknik metode padan pada analisis data
1.      Teknik dasar
Teknik dasar yang dimaksud adalah teknik pilah unsure penentu (PUP) yang alatnya berupa daya pilah yang bersifat mental yang dimiliki oleh penelitinya.
2.      Teknik lanjutan
Setelah teknik dasar dilalui, barulah melaksanakan teknik lanjutan, yang dimaksud teknik ini adalah hubungan banding antara semua unsure penentu yang relevan dengan semua unsure data yang ditentukan.
3.      Pengertian “alat”
Yang dimaksud alat disini adalah alat penentu dan alat penggerak bagi alat penentu , maka alat penggerak bagi alat penentu disebut dengan istilah piranti, sedangkan alat penentu disebut dengan istilah alat.


KELOMPOK  11
 Metode Referensial

1.      MAKNA REFERENSIAL
Makna adalah suatu pengertian atau konsep yang terdapat pada sebuah makna linguistik. Sedangkan referensial adalah semua kata atau makna yang memiliki acuan. Jadi makna referensial yaitu suatu makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan (acuan).
2.      METODE ANALISIS REFERENSIAL
Kita dapat mengenali makna dari suatu istilah atau ungkapan, dan juga berdasarkan hubungan antar istilah atau ungkapan itu dengan suatu yang diacunya. Dalam teori referensial ini memiliki hubungan dengan konsep mengenai sesuatu yang telah disepakati bersama (oleh masyarakat bahasa), seperti meja dan kursi yang bermakna referensialkarena keduanya memiliki referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut “meja” dan “kursi”.
Jadi  menurut teori referensial ini sesuatu kata atau ungkapan dianggap memiliki makna apabila telah memiliki acuan.
3.      HUBUNGAN METODE REFERENSIAL DENGAN SUATU MAKNA
Hubungan referensial adalah hubungan yang terdapat antara sebuah kata dan dunia diluar bahasa yang diacu oleh pembicaraan. Hubungan antara kata (lambang), makna (konsep atau referens), dan sesuatu yang diacu adalah hubungan tidak langsung. Hubungan tersebut digambarkan melalui apa yang disebut segitiaga semiotik, artinya ada media yang terletak diantara keduanya. Kata merupakan lambang yang menghubungkan dengan antara konsep dan acuan.
4.      ALAT PENENTU METODE ANALISIS REFERENSIAL
Dalam menginterprestasikan data, dengan menggunakan metode referensial. Artinya data yang berupa satuan lingual dianalisis maknanya sesuai dengan kenyataanyang ditunjuk oleh suatu satuan yang ada. Metode analisis data yang lainnya dalam penelitian digunakan untuk merujuk pada metode etnografi yaitu dengan melakuakan analisis wacana.


KELOMPOK 12
Model analisis linguistik morfologi
Model analaisi linguistik sebuah sistem data dan aturan (ciri-ciri, jenis, struktul, level dan lain-lain) yang secara bersama-sama memperlihatkan sebuah peilaku yang sama dengan otak manusia dalam memahami dan memproduksi kalimat secara lisan dan tulisan. Dalam linguistik teoritis modern, ada yang mempelajari fonologi, ada morfologi, dan ada juga sintaksis, semantik serta pragmatik. Dalam fonologi, ada banyak membahas soal aksentuasi, sementara dalam semantik kita akan membahas soal tindak tutur, dan lain-lain. Kriteria kebenaran utama dalam riset linguistik teoritis adalah karakter logisnya, konsistensi, dan keterkaitan antara konsepsi-konsepi intuitif mengenai fenomena linguistik yang ada dari pengemuka teori dan anggota lain dari masyarakat linguistik. Model linguistik fungsional memperhatikan masalah prilaku bahasa yang tampak pada manusia dan kurang memperhatikan aktivitas fisiologi otak.
Hakikat Morfologi dalam artian analisis linguistik morfologi merupakan suatu model penganalisisan terhadap suatu bentuk hal morfologi yang didalamnya membicarakan seluk beluk morfem, bagaimana menentukan suatu bentuk morfem atau bukan, bagaiman morfem-morfem itu berproses menjadi kata, yaitu satuan terkecil didalam sintaksis. Belajar morfologi pada dasarnya belajar untuk mengetahui proses terbentuknya kata secara gramatikal. Proses terbentuknya kata-kata sering disebut dengan Morfofonologi, Morfofonemik. Tujuan kajian terhadap morfem dan kata adalah terumuskannya sistem pembentukan kata dalam suatu bahasa.
Materi Bidang Morfologi pada bidang morfologi akan melibatkan; unsur yang memiliki makna (morfem bebas) dan unsur yang ikut mendukung makna (morfem terikat). Proses morfemis yang harus diperhatikan dan dapat menjadi materi penelitian pada tataran morfologi dan fonologi, anatara lain afokasi, reduplikasi (duplikasi). Pada meteri bidang morfologi terdapat hal yang tidak luput dari pembahasannya, yakni pemerolehan morfologi.